Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kenalkan Budaya Sunda dengan Payung Geulis


TANGAN-tangan mungil anak-anak dari 12 taman kanak-kanak di Kota Bandung tekun menyapukan kuas ke payung Tasik yang menjadi media kreasi bebas. Tiap anak mendapat satu payung Tasik berukuran mini yang masih polos untuk dihias dalam lomba menghias payung tasik yang diadakan TK Avicena di Jalan Cikutra III No 19, Bandung, Minggu (10/5).

Payung yang terbuat dari kertas dengan rangka dan batang dari kayu dan bambu ini biasa disebut payung geulis.



Dengan semangat tinggi, anak-anak ini melukis payung dengan gambar bunga menggunakan beraneka warna. Cat air yang mengotori tangan mereka tidak membuat bocah-bocah yang masih polos itu terganggu.

Lokasi lomba di tempat biasa siswa TK Avicena bermain membuat anak-anak merasa nyaman, bahkan mereka merasa sedang bermain, bukan berlomba. Dalam satu jam, para peserta menyelesaikan pekerjaan mereka menghias payung.

"Dengan mengikuti lomba ini, mereka diharapkan mengetahui ada juga payung tradisional dari kertas, yang dulu sering dipakai oleh eneng-eneng (gadis Sunda)," kata Ketua Pelaksana Lomba Menghias Payung Tasik sekaligus Kepala Sekolah TK Avicena Nia Komala Minggu (10/5).

Menurut Nia, tujuan dari lomba ini adalah untuk menggali potensi anak-anak TK di Kota Bandung sekaligus memperkenalkan kebudayaan Sunda lebih dini. Lomba tersebut diikuti oleh 20 siswa yang sudah diseleksi dari 150 siswa.

Andriani (37), orang tua peserta, mengatakan, anaknya senang sekali ikut lomba ini. ''Anak saya suka mewarnai, tapi sayang saya tidak boleh ikut melihat dia mewarnai payungnya," ujarnya.

Salah satu peserta, Yuti Syarah (6), siswa tingkat B dari TK Al-Irsad, memilih menggambar jeruk untuk menghias payungnya karena dia mengaku senang dengan buah jeruk. (yatni setianingsih)

Sumber : Tribun Jabar

Read More...

History of Bandung

  • 1488 - Bandung was founded as part of the Kingdom of Pajajaran.
  • 1799 - VOC so that the bankruptcy of his diambilalih in the archipelago by the Dutch government. Bandung at that time led by the Regent R.A. Wiranatakusumah II.
  • 1808 - the Netherlands Herman Willem Daendels as Governor-General in the archipelago after abandoned VOC.
  • 1809 - Regent ordered the transfer of capital from rural areas to Karapyak River Cikapundung (square now) that the time is still forest but there are settlements in the north.
  • 1810 - Daendels drive a stick on the edge of the river Cikapundung opposed to the square now. "Zorg, dat als ik terug hier een stad cereal bowl is gebouwd!" (Try, when I come back to here, a city has been built! "). Now the place is a central point or 0 KM city.
  • 25 May 1810 - Daendels ask Bandung regent Parakanmuncang and move to the capital region.
  • 25 September 1810 - Daendels issued a decree pindahnya capital city and at the same time as lifting Raden Syrian Patih Parakanmuncang. Since these events serve as the September 25 anniversary of Bandung and RA Wiranatakusumah as the founding father. Now replace the name enshrined Cipaganti road, where this region became regent during the housing capital move to square now.
  • 24 March 1946 - Bandung Pembumihangusan by the freedom fighter known as the 'Bandung Lautan Api' and enshrined in the song "Halo-Halo Bandung".
  • 1955 - Asia-Africa Conference held on 18 April 1955 at Gedung Merdeka, the first named "Concordia" which is located on Jl. Asia Africa, opposed the Savoy Homann hotel.
  • 2005 - KTT Asia-Africa २००५
  • In 2006, Bandung city terkotor predicate get from the government, this is closely related to the emergency status of the waste was going on in Bandung on the year.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

  • 1488 - Bandung didirikan sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran.
  • 1799 - VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di Nusantara diambilalih oleh pemerintah Belanda. Saat itu Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II.
  • 1808 - Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara setelah ditinggalkan वोक।
  • 1809 - Bupati memerintahkan pemindahan ibu kota dari Karapyak ke daerah pinggiran Sungai Cikapundung (alun-alun sekarang) yang waktu itu masih hutan tapi sudah ada permukiman di sebelah utara.
  • 1810 - Daendels menancapkan tongkat di pinggir sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung.
  • 25 Mei 1810 - Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang memindahkan ibukota ke wilayah tersebut.
  • 25 September 1810 - Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang। Sejak peristiwa tersebut 25 September dijadikan sebagai hari jadi kota Bandung dan R.A. Wiranatakusumah sebagai the founding father. Sekarang nama tersebut diabadikan menggantikan jalan Cipaganti, di mana wilayah ini menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alun-alun sekarang.
  • 24 Maret 1946 - Pembumihangusan Bandung oleh para pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan 'Bandung Lautan Api' dan diabadikan dalam lagu "Halo-Halo Bandung".
  • 1955 - Konferensi Asia-Afrika diadakan pada tanggal 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama "Concordia" yang berlokasi di Jl. Asia Afrika, berseberangan dengan hotel Savoy Homann.
  • 2005 - KTT Asia-Afrika २००५
  • Pada tahun 2006 Bandung mendapatkan predikat kota terkotor dari pemerintah, hal ini bertalian erat dengan status darurat sampah yang sempat terjadi di Bandung pada tahun tersebut.

Read More...

Bandung, city of arts and lights




Bandung, city of arts and lights by en.en.
This photo is taken right under the Pasupati Bridge in Bandung. I saw this amazing graffiti art on the column and I can't help but to stop in the middle of the road to take this photo =)
Whoever the artist is...you're amazing!!


Bandung, city of arts and lights : Competition Photo #2
Bandung, Indonesia
Feb 17, 2008

P.s. Arlin, thanks for the title & advice
and Tha, thanks for the advices =)

Read More...

Bandung, Tidak Cuma Punya FO dan Kuliner


BANDUNG — Kabupaten Bandung merupakan daerah yang terkenal dengan berbagai macam wisata, seperti wisata belanja di factory outlet (FO) dan kuliner di Provinsi Jawa Barat, juga memiliki banyak potensi wisata yang masih belum tergali, terutama wisata bumi.

"Kabupaten Bandung memiliki potensi wisata yang menawarkan keindahan alam dengan berbagai macam sejarah di dalamnya," kata T Bachtiar dan Budi Barahmantyo, penulis buku Wisata Bumi, Cekungan Bandung yang diluncurkan dalam pembukaan peringatan HUT Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-54 di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung, akhir pekan kemarin.




Pada diskusi buku tersebut kedua penulis memperkenalkan potensi-potensi wisata bumi yang berada sangat dekat dengan orang-orang di Bandung, yakni sekitar Kabupaten Bandung yang pada masa prasejarah merupakan cekungan dan dalam perkembangannya banyak ditemukan peninggalan artefak dan bukti-bukti geologis peninggalan zaman prasejarah.

Menurut Bachtiar, dia mulai menjelajahi alam Kabupaten Bandung sejak meninggalkan kota kelahirannya di Pameungpeuk, Garut, tahun 1974. Saat itu ia kehilangan aroma desa, seperti aroma tanah, hujan, dan kabut.

Kemudian ia mulai menjelajahi alam dan mendapati banyak sekali kekayaan alam bandung di dalamnya. Ia masih ingat bagaimana rasanya memandangi alam dengan tetesan embun di ujung rumput dan sinar matahari yang terbias oleh embun.

Pada tahun 2000-an Bachtiar yang juga seorang dosen di Fakultas Ekonomi Univesitas Langlangbuana mengajak sejumlah guru untuk melihat keindahan Goa Pawon. Di sana pula ia menemukan banyak artefak zaman prasejarah dan bertemu dengan Budi. Ternyata Budi memiliki hobi yang sama dengan Bachtiar dan sedang meneliti bebatuan yang ada di Goa Pawon.

Dia sengaja mengajak guru karena guru dapat menceritakan kembali kepada murid-muridnya dan tiap tahun akan berganti sehingga tiap tahunnya semakin banyak siswa yang memahami keindahan dan sejarah cekungan Bandung.

Bahctiar dan Budi sama-sama intens menulis di media massa tentang bagaimana pentingnya konservasi alam di Kabupaten Bandung. Sampai akhirnya tulisan-tulisan mereka dibukukan oleh Lembaga Geologi dengan judul Geowisata, Sejarah Bumi Bandung pada tahun 2006 dan diterbitkan kembali dengan revisi menjadi Wisata Bumi, Cekungan Bandung.

Bachtiar dan Budi melalui bukunya mengajak semua masyarakat bandung untuk dapat menemukan kembali Bandung dengan segala keramahan masyarakat dan keindahan alamnya. Diceritakan dalam buku bagaimana catatan perjalanan dan pengalaman berwisata di alam Bandung. "Hal yang bisa dilakukan dengan perjalanan setengah hari mungkin Goa Pawon, lagi pula Goa Pawon adalah tempat yang paling menarik," kata Budi yang juga dosen geologi di ITB.

Budi mengajak para pemilik biro wisata mengembangkan potensi wisata bumi tersebut. Budi, Bachtiar beserta rekan-rekannya bersedia membantu dari segi interpretasi biologi. Masih banyak potensi lain yang bisa digali, contohnya retakan banjaran dan bukit kapur yang ada di Padalarang.

KOMPAS.com

Read More...

Leuweung Lebak Siliwangi Digusur Seniman Bandung Berontak




Di Bandung, sejak beberapa pekan terakhir dihebohkan dengan rencana penggusuran kawasan Lebak Siliwangi sebagai bagian dari kawasan Babakan Siliwangi Bandung, yang terletak di Jl. Babakan Siliwangi, sebuah jalan tembusan Jl. Tamansari melewati Jl.Ganesa Bandung.
Kawasan Babakan Siliwangi memang bukan situs resmi yang dapat dikunjungi oleh sembarang orang. Namun, bagi sebagian besar para karuhun Sunda, kawasan ini menyimpan sejarah panjang bagi kelangsungan hidup budaya, ekologi, seni dan senimannya itu sendiri. Penggusuran ini akan dilakukan oleh pengembang PT Esa Gemilang Indah (EGI), yang berniat ”memanjakan” impian ke arah komersial, dengan dalih bahwa di kawasan tersebut akan dibangun kompleks Pusat Budaya Jawa Barat yang bernuansa seni dan budaya serta (ini dia) menghasilkan fulus yang banyak.



Tentu saja niat itu patut ”diwaspadai” sebagai sebuah iming-iming bahwa kawasan ini akan dijadikan kawasan wisata, cottage, penginapan mahasiswa dan pusat seni Sunda, biasanya dilakukan oleh kelompok tertentu untuk meredam amarah warga. Ini pula yang membuat para seniman Bandung sepakat mengadakan pertemuan untuk kemudian membentuk sebuah wadah perlawanan pada EGI. Maka, ditetapkanlah nama ”SOS Lebak Siliwangi” yang diartikan sebagai ”Selamatkan Jiwa Lebak Siliwangi!!”.
Pembentukan wadah ini bukan untuk menentang program serta niat baik pengembang atau pemerintah, tetapi sebagai sebuah kepedulian sosial budaya, serta wujud ketakutan akan berubahnya kawasan Lebak Siliwangi menjadi hutan beton yang angkuh, padahal sebelumnya Lebak Siliwangi dikenal sebagai hutan kota yang asri, segar, dingin dan akrab. Ketakutan ini tentu saja sangat mendasar, sebab bagi kelompok pengusaha dalam hal ini pengembang, janji manis untuk meraih keuntungan sudah merupakan hal yang biasa, bahkan boleh jadi janji manis merupakan Sunah Muakkad yang harus dilakukan pengusaha. Inilah salah satu yang mendasari ketersinggungan para seniman Bandung.




Mata Air Prabu Siliwangi
Kawasan Babakan Siliwangi sebenarnya terbentang sejak Kebun Binatang, Sabuga ITB, sampai lahan yang selama ini dipakai Rumah Makan Babakan Siliwangi. Luas kawasan ini kira-kira belasan hektar, lahan yang tersisa dari lahan yang dulu dibeli oleh dana APBN ini adalah lahan yang berbentuk Tapal Kuda yang dibatasi oleh Jl. Tamansari dan Sabuga ITB, seluas 3,8 ha, lahan inilah yang disebut Lebak Siliwangi.
Kawasan Babakan Siliwangi merupakan bagian dari sejarah kota Bandung, sebuah kawasan hijau yang menyimpan banyak kenangan dan kesuksesan banyak orang., selain juga merupakan daerah resapan air, bahkan konon menurut para orangtua, di sana terdapat empat mata air yang disebut mata air Prabu Siliwangi. Sejak berdirinya Sabuga yang konon waktu berdiri diperuntukkan bagi seniman tetapi nyatanya menjadi sebuah gedung angkuh yang sulit disentuh para seniman, serta salah satu sumber mata air dijadikan lahan bisnis air mineral ”ganesa”, maka fungsi resapan air menjadi berkurang.
Adalah para seniman seperti Wawan S Husen, Deden Sambas, Ahda Imran, Tisna Sanjaya, Heru Hikayat, Imam Abda, Bambang Subarnas, dan lain-lain, mencoba menengok kembali fungsi Lebak Siliwangi ini sebagai bahan kajian dalam rangka gerakan pemberontakan seniman Bandung terhadap pengembang EGI. Banyak sudah akhirnya data-data yang memperkuat bahwa kawasan Lebak Siliwangi harus tetap menjadi hutan kota, kepentingan budaya, ekologi dan kemaslahatan warga kota Bandung.
Dari mereka saya mendapatkan kisah kecil yang menarik, sejak tahun 1950-an, kawasan Babakan Siliwangi masih berbentuk hutan geledegan (belantara), air sungai Barani yang mengalir menuju sungai Cikapundung selalu menarik perhatian, pohon-pohon yang rimbun, angin yang semilir, cicit burung dan bulan purnama menjadi bagian integral dari pemandangan yang ada, disanalah para seniman dan warga setempat niis (sekedar cari angin) untuk mendapatkan kesegaran alamiah, begitulah bertahun-tahun lamanya, tempat ini menjadi sakral bagi mereka yang ingin mencari jodoh, mendapat ilham, menulis, mengarang, melukis, atau apa saja, ular-ular sanca yang ada di sana tidak pernah mengganggu warga setempat, hingga kini ular-ular tersebut masih tetap hidup di rerimbunan pohon.
Seorang pelukis terkenal, Thoni R. Yoesoef bahkan kemudian memanfaatkan keberadaan Lebak Siliwangi, ia mendirikan Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, berdiri tahun 1982, bersamaan dengan berdirinya Rumah Makan Babakan Siliwangi, diresmikan oleh seniman Anang Sumarna yang waktu itu menjabat sebagai kepala Kanwil Depparpostel Jawa Barat. Thoni R Yoesosef akhirnya melahirkan pelukis ternama seperti Tisna Saleh, Deden Sambas, Suratman, Harkardi, Anang Ruhiat, Fredi Sofyan, Dodo Abdullah, Rosid, dan Edi Turmudi, seorang sastrawan Sunda yang menjadi anggota DPR setelah ”mesantren” di sana.
Lepas dari ada atau tidak ada SOS Babakan Siliwangi, kawasan ini tetaplah hutan kota yang patut dipertahankan keaslian dan keasriannya. Boleh saja Abrianto Effendi Direktur Teknis PT EGI mengatakan bahwa pembangunan kawasan Lebak Siliwangi didesain pusat budaya yang diarahkan menjadi ikon pariwisata yang kuat dengan kelengkapan dari sisi seni-budaya-komersial, misalnya pusat seni dan kegiatan pemuda, amphiteater, rumah makan, kafe, dan didukung oleh tersedianya graha, yaitu fasilitas hunian yang ditujukan bagi masyarakat banyak dengan fasilitas selengkap hotel, dengan tetap memperhatikan lingkungan.
Dalih dan iming-iming itu, tentu saja bukan harga mati yang patut dipercayai begitu saja, karena kalau tiba-tiba kita angkat tangan dan menyatakan setuju, maka ujung-ujungnya tempat ini tetap saja menjadi sebuah pusat keuntungan pengembang dan pengusaha hiburan, dan sebagian besar warga Bandung mengetahui dengan jelas, bahwa akhir-akhir ini mall-mall dan pertokoan yang ada di kota Bandung ditangani oleh pengembang PT Istana Group, yang di dalamnya terdapat PT EGI, PT APP, dan lain-lain. Proyek yang pernah dan sedang digarap mereka antara lain ITC Kebon Kelapa (simpang Jl. Mohammad Toha - Jl. Pungkur) , Pembangunan Pasar Baru (Jl. Otista), Istana Plaza (Jl. Pasirkaliki-Pajajaran), Bandung Electro Centre (Jl. Purnawarman) dan lain-lain? Semua pembangunan tersebut selalu bermasalah, selain membuat lingkungan tidak ramah juga menambah daftar dosa kemacetan kota Bandung.
Kejadian-kejadian tersebut harus menjadi kewaspadaan bagi warga kota Bandung, saya tidak bisa membayangkan betapa hutan kota Bandung Lebak Siliwangi, menjadi hutan beton yang kokoh dan angkuh, di mana lagi Prabu Siliwangi akan menangis?, di mana lagi air akan tertampung?.(http://www.sinarharapan.co.id)

Read More...

The Cafe and Restaurant Address in Bandung


1. Kafe Kampung Daun
Jalan Sersan Bajuri km 4.7 no 88 Villa Trinity Complex

2. Lembang Kencana
Jalan Raya Lembang no. 302

3. The Peak
Jalan Sersan Bajuri, Perumahan Giri Indah, Lembang


4. Kafe Bunga
Kompleks Istana Bunga, Jalan Kolonel Masturi km 9 Parongpong Lembang

5. Hit Cafe, Hotel Holiday Inn
Jalan Ir H Juanda (Dago) 31

6. Kebun Bambu, Hotel Holiday Inn
Jalan Ir H Juanda 31

7. Sahara Bistro & Kafe
Jl Ir H Juanda 139A

8. Kafe Geulis, Hotel Geulis
Jl Ir H Juanda 129

9. Tizi's Kafe & Resto
Jl Kidang Pananjung 3, Dago

10. Kafe Halaman
Jl Tamansari 92

11. Dago Tea House
Jl Bukit Dago Selatan 53

12. McNzie Uptown Kafe & Resto
Jl Bukit Pakar Timur 73

13 Calista Cafe
Jl Bukit Pakar Timur IV kav B1

14. Kafe Selasar
Jl Bukit Pakar Timur 100

15. Kafe Terraza
Lt.2 Bale Pakuan, Jalan Ciumbuleuit

16. Kafe Ruang Tengah Ardan
Jl Cipaganti 159

17. Kafe Sapu Lidi
Jl Cihampelas 107

18. Ilalang Restaurant dan Coffe Shop
Jl. Karang Layung 24

19. Kafe Resto Arar
Jl Prof Sutami 52A

20. Cellar Cafe & Lounge
Jl Diponegoro 9

21. Tru Cafe
Jl Trunojoyo 8

22. Kafe Paparazi, Hotel Grand Aquila
Jl dr Djundjunan 116

23. The Black Coffee Bar
Jl dr Djundjunan

24. Kapulaga Cafe
Jl Teuku Umar 6

25. Kafe Victoria BIP Lt 2
Jl Sumatera

26. Kafe Pandanwangi
Jl Sumatera 52-54

27. Kelapa Lagoon
Jl Sumatera 2

28. Taman Swargaloka, Hotel Hyatt
Jl Sumatera 51

29. The Taste Cafe, Istana Plaza Lt 3
Jl Pasirkaliki 121-123

30. Kafe Ohala, Istana Plaza
Jl Pasirkaliki

31. O Fresh Salad Bar House
Jl Sunda 71

32. D'Palm
Jl Lombok 45

33. Kafe & Resto Baraya
Jl Gandapura 56-58

34. Dakken Cafe
Jl RE Martadinata 67

35. Kafe Bali
Jl RE Martadinata 215

36. Talagabodas Coffee House Hotel Papandayan
Jl Gatot Subroto 83

37. Kafe Nyonya Rumah
Jl Naripan 92C

38. Asiatique Cafe
Jl. Veteran 5

39.Braga Permai
Jl Braga 59

Read More...

Jaipongan " The Sundanese Traditional Dance"


Jaipongan was a genre of dance art that was born from creativity of an artist from Bandung, Gugum Gumbira. His attention in the people's art that one of them was to knock on xOBJ made him knew and knew true perbendaharan patterns of the movement of the available tradition dance to Kliningan/Bajidoran or the Tilu Beat. The movements of the aperture, pencugan, nibakeun and several styles of the movement mincid from some art above was enough to have the inspiration to develop the dance or art that currently is known by the name of Jaipongan.


History

Before the form of this performance art emerged, there were several influences that formed the background of the form of this social dance. In West Java for example, the social dance was the influence from Ball Room, that usually in the performance of social dances is not free from the existence ronggeng and pamogoran. Ronggeng in the social dance no longer functions for the ceremony activity, but for entertainment or the method mixed. The existence ronggeng in performance art had the attraction that invited the sympathy of the group pamogoran. For example in the Tilu Beat dance that like that was known by the Sundanese community, it was estimated this art was popular around 1916. As performance art of the people, this art only was supported by simple elements, like waditra that covered the re-chapter, kendang, two kulanter, three beats, and the gong. Likewise with the movements of his dance that did not have the pattern of the standard movement, the dancer's costume that was simple as the populist reflection.





Together with faded him the artistic kind above, former pamogoran (the spectator who played an active role in performance art of the Beat of Tilu/Doger/Tayub) changed his attention in Kliningan performance art, that in the area of the Coast of Utara West Java (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, and Subang) was known with the Kliningan Bajidoran term that the pattern of his dance and the performance incident him had the resemblance with art beforehand (knocked on xOBJ). In in that, the existence of the dance in the Banjet Mask was enough to be enjoyed, especially in Karawang, where several patterns of the Bajidoran movement were taken from the dance in this Banjet Mask. Choreographically the dance still menampakan patterns of the tradition (knocked on xOBJ) that contained the element of the movements of the aperture, pencugan, nibakeun and several styles of the movement mincid that in turn became the foundation of the Jaipongan dance creation. Several movements of the foundation of the Jaipongan dance apart from the Tilu Beat, Ibing Bajidor as well as the Banjet Mask were Tayuban and Pencak Silat.

The emergence of the work dance of Gugum Gumbira was initially acknowledged as the Tilu Beat the development, that indeed because of the foundation of the dance was the development from knocking on xOBJ. The first work of Gugum Gumbira was still being very thick with the colour ibing knocked on xOBJ, both from the aspect of the choreography and his accompaniment, that afterwards the dance became popular with the Jaipongan term.

Jaipongan Now
The Jaipongan work first that began to be known by the community to be the "Pulus Keser Bojong leaves" dance and "Rendeng Bojong" that both of them were the kind and the teamed dance of the daughter's dance (Putra and the daughter). From the dance emerged several names of the dancer Jaipongan that was competent like Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, and Pepen Dedi Kurniadi. The beginning of this dance emergence could become discussions, that rumours of his centre were the erotic and vulgar movement. However from exposing several print medias, the name of Gugum Gumbira began to be known by the community, everything after the Jaipongan dance during 1980 was staged in TVRI the Jakarta central station. The impact of this popularity more increased the frequency of the performance, both in the television media, hajatan and celebrations that were held by private enterprise's side and the government.

The Jaipongan presence gave the contribution that was quite big against the instigators of dance art to more again active dug up the kind of the people's dance that beforehand inattentive. With the Jaipongan dance emergence, was made use of by the instigators of dance art to hold Jaipongan dance courses, was made also use of by the businessman of night pubs as the guest decoy of the invitation, where the further development of the efforts opportunity of this kind was formed by the instigators of the dance as an effort to empowerment of economics by the name of the Dance Studio or groups in several areas of the West Javanese territory, for example in Subang with Jaipongan the style "kaleran" (north).

The typical Jaipongan characteristics the style kaleran, namely purity, eroticism, the humorist, the spirit, spontaneity, and simplicity (natural, the way it is). That was reflected in the pattern of the presentation of the dance in his performance, there were those who was given the pattern (Ibing Pola) like in Jaipongan art available in Bandung, also had also the dance that not dipola (Ibing Saka), for example in art of Jaipongan Subang and Karawang. This term could be experienced by us to Jaipongan the style kaleran, especially in the Subang area. In his presentation, Jaipongan the style kaleran this, as follows: 1) Tatalu; 2) the Gadung Flower; 3) Kawung Gopar; 4) the Pembukaan Dance (Ibing Pola), usually was brought by the single dancer or Sinden Tatandakan (attacked sinden but could not singing but danced the song sinden/juru kawih); 5) Jeblokan and Jabanan, was the performance part when the spectators (bajidor) sawer money (jabanan) while greetings tempel. The term jeblokan was interpreted as the couple who resided between sinden and the spectator (bajidor).

The further development of the Jaipongan dance happened in taahun 1980-1990-an, where Gugum Gumbira created the other dance like Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-escorted the Puring leaves, Rawayan, and the Kawung Anten Dance. From these dances emerged several dancers Jaipongan that was competent including Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, and the smoke.

Today the Jaipongan dance might be acknowledged as one of the identities keseniaan West Java, this was visible in several important agendas that in connection with the guest from the foreign country that came to West Java, then was welcomed with the performance of the Jaipongan dance. Likewise with artistic missions to manca the country was always supplemented with the Jaipongan dance. The Jaipongan dance often influenced other arts available in the West Javanese community, both in performance art of the puppet, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, and almost all the performances of the people and to music dangdut modern that dikolaborasikan with Jaipong became art of Pong-Dut.Jaipongan that has diplopori by Mr. Nur & Leni

The source of reconciliation
The gift reward. 2003. The description of West Javanese art. Officially Culture & West Javanese Tourism, Bandung.

(The source from wikipedia)

Read More...